Setelah melalui kehidupan yang penuh dengan jihad dan sumbangsih, sultan Murad II akhirnya wafat pada tanggal 5 Muharram 855 H, bertepatan dengan tanggal 7 Februari 1451 H.

Selanjutnya, Muhammad Al-Fatih memimpin kesultanan, kekuasaan, dan segala tanggung jawab kesultanan melalui pembaiatan ahlul halli wal adqi daulah Utsmaniyah saat ia berusia 20 tahun.

Perhatian-Perhatian Utama.

Saat menduduki singgasana kekuasaan dan berada di pucuk tanggung jawab daulah, penaklukan Konstantinopel menjadi perhatian utama sultan Muhammad. Bukan karena dorongan petualangan militer ataupun kedunguan masa muda, tapi semata karena pandangan yang objektif.

Para ayah dan kakeknya sudah berupaya untuk menaklukkan Konstantinopel sebelumnya. Juga para pemimpin sebelumnya dalam sejarah, baik pada masa yang belum lama maupun pada masa yang lampau. Mereka semua mengepung kota tersebut dengan ketat. Namun, kota itu tetap saja kokoh berdiri, menjadi penghalang yang sulit diatasi di tengah jalan menuju Eropa, serta menjadi permasalahan militer yang berbahaya di belakang pasukan Islam yang bergerak ke sana-kemari di Eropa hingga wilayah Vienna dan berada di jantung benua Eropa. Untuk itu, Konstantinopel harus ditaklukkan, apa pun harga yang harus dibayar. Harus ditaklukkan dengan strategi militer yang dipelajari dengan baik dan kejutan-kejutan yang belum pernah dikenal sebelumnya.

Selain mewujudkan harapan keyakinan terhadap sabda Rasulullah saw, penaklukan Konstantinopel bagi sultan Muhammad juga akan memudahkan Daulah Utsmaniyah untuk menaklukkan wilayah Balkan dan Eropa timur, juga membuat wilayah negerinya terhubung langsung dengan kawasan-kawasan tersebut tanpa adanya musuh ataupun ancaman keamanan di sela-selanya.

Seperti yang telah kami sampaikan, Konstantinopel adalah penghalang yang menghadang jalan penaklukan-penaklukan di Eropa. Untuk itu, Konstantinopel harus ditaklukkan, dikuasai, dan disingkirkan dari jalan.

Ibu Kota Edirne.

Edirne terletak di timur laut Konstantinopel. Kota ini dijadikan para pendahulunya sebagai ibu kota Daulah Utsmaniyah, dan sultan Muhammad Al-Fatih mengikuti mereka. Padahal, berdasarkan posisi geografis, wilayah kota ini tidak aman. Namun, kota ini menjadi titik tolak pasukan Daulah Utsmaniyah bergerak ke jantung Eropa, sehingga kota ini harus dipersiapkan dan dibentengi super kuat.

Meriam Kesultanan.

Salah seorang arsitek Bulgaria berpikir untuk menciptakan meriam. Ia menawarkan gagasan ini kepada pihak-pihak berwenang di negaranya. Namun, mereka menilai biayanya terlalu besar, dan mereka tidak mampu membiayai gagasan pembuatan meriam.

Akhirnya, ia menemui sultan Muhammad dan menawarkan gagasannya itu kepadanya. Muhammad langsung menyetujui, dan mulai membuat banyak meriam. Meriam-meriam dicoba dan sukses.

Romalli Hishar.

Romalli Hishar artinya benteng Romawi.

Kakek sultan Muhammad, Bayazid Ash-Sha’iqah, membangun benteng di tepi bagian Asia tepatnya di selat Bhosporus saat berusaha menaklukkan Konstantinopel. Benteng tersebut ia beri nama Anatholi Hishar yang berarti benteng Anatholia. Posisi benteng ini terletak di tepi selat yang lebih sempit. Akhirnya, sultan Muhammad memutuskan untuk membangun benteng di tepi bagian Eropa di selat yang sama berhadapan dengan benteng pertama.

Tujuan dari proyek militer ini adalah untuk memperkuat selat Bhosporus dari kedua sisinya. Berdasarkan ilmu matematika arsitektur yang ia pelajari, sultan Muhammad sendiri yang membuat desain benteng, merancangnya, dan memilih posisinya.

Kemudian, desain benteng ini diterapkan seorang arsitek bangunan, Muslihuddin Anma. Untuk penggarapan proyek benteng ini, ia melibatkan tujuh ribu pekerja, hingga mereka menyelesaikan pembangunan benteng dalam empat bulan.

Jika Anda ditakdirkan berkunjung ke Istanbul—dengan izin Allah—dan menyaksikan jejak-jejak benteng yang hingga kini masih ada ini, Anda akan melihat sebuah keajaiban. Sebab, benteng ini sangat tinggi di posisinya, juga tembok-tembok dan menaranya yang tinggi. Anda dijamin kehabisan tenaga untuk mencapai puncak benteng ini.

Setelah selesai dibangun dan benteng diisi prajurit serta persenjataan, sebagian di antara mereka keluar untuk melihat Konstantinopel dari dekat, hingga terjadi adu mulut dan kegaduhan antara mereka dengan penduduk Bizantium yang ada di kawasan pinggiran. Raja Konstantinopel terpaksa memerintahkan untuk mengosongkan tempat-tempat tersebut dan mengevakuasi penduduknya ke wilayah Konstantinopel demi menyelamatkan hidup mereka, juga memerintahkan untuk menutup pintu-pintu gerbangnya.

Perlu disampaikan terkait persoalan ini, bahwa orang-orang Konstantinopel berlindung di balik tiga tembok penghalang secara berlapis, yang antara satu tembok dengan tembok lain terpaut jarak cukup luas.

Awal Serangan.

Pada musim semi tahun 857 H (1453 M), serangan penaklukan dimulai. Untuk serangan ini, sultan Muhammad menghimpun 20 ribu prajurit dalam 400 perahu besar, serta 80 ribu prajurit kavaleri dan invanteri. Jumlah total kekuatannya mencapai 100 ribu prajurit didukung 200 meriam.

Konstantinopel dikepung dari darat dan laut sebagai persiapan penyerangan.

Meski banyak, perahu-perahu Utsmaniyah minim persiapan sehingga tidak mampu berdiri dengan tegak di teluk Golden Horn untuk memasukinya, karena teluk ini ditutup dengan rantai-rantai besi yang sangat tebal. Perahu-perahu dijamin hancur ketika berupaya nekad menerobos masuk, sehingga panglima armada laut Utsmaniyah, Baltha Ouglu Sulaiman Bek cukup mengawasi situasi karena tidak bisa berbuat apa-apa.

Di tengah situasi tersebut, perahu-perahu datang dari Genoa, Italia, dikirim oleh Paus untuk menyelamatkan Konstantinopel. Perahu-perahu ini berhasil menyeberang hingga ke teluk setelah melalui peperangan laut dan setelah rantai penghalang diangkat. Armada laut Utsmaniyah tidak tegar menghadapi armada laut Genoa ini.

Panglima Militer Jenius, Sultan Muhammad Al-Fatih.

Sultan Muhammad tidak putus asa karena apa yang terjadi. Ia terus mengasah otaknya yang cerdas dan menyendiri di dalam tendanya, hingga muncullah sebuah harapan.

Ia langsung mengumpulkan para komandan dan menyampaikan gagasannya kepada mereka. Meski sulit dilakukan, tapi gagasan ini merupakan strategi inovatif yang mengejutkan yang belum pernah dikenal seorang panglima militer pun dalam sejarah.

Perahu-perahu dipindahkan melalui jalur darat melalui puncak-puncak perbukitan tinggi, melintas di atas papan-papan kayu yang telah dilumuri minyak, melintasi wilayah Galata.

Aksi ini dilaksanakan pada malam hari. Para prajurit memperlihatkan kekuatan dan tekad luar biasa, hingga 67 kapal berhasil diturunkan ke perairan teluk Golden Horn.

Pasukan Bizantium dikejutkan oleh kekuatan-kekuatan laut yang sudah terpampang di hadapan mata mereka. Perahu-perahu perang Daulah Utsmaniyah berbaris lurus satu persatu untuk menghubungkan dua tepi teluk seakan sebuah jembatan agar pasukan-pasukan Utsmaniyah bisa menyeberang dengan mudah.

Doukas, seorang ahli sejarah yang hidup pada masa itu dan menyaksikan kejadian tersebut, menuturkan, “Ini mukjizat. Tak seorang pun mendengar hal ini sebelumnya, dan tak seorang pun melihat hal ini sebelumnya.”

Sebelum Serangan Umum.

Sultan Muhammad mengirim utusan kepada kaisar Konstantinopel, memintanya untuk menyerahkan kota demi mencegah pertumpahan darah, dan kaisar berhak menarik diri ke mana saja ia mau dengan seluruh harta benda dan simpanannya. Sultan berjanji memberikan jaminan aman kepada penduduk Konstantinopel atas harta, aset, dan nyawa mereka jika ia memenuhi permintaan sultan. Peringatan ini adalah peringatan kedua.

Pasukan Genoa menolak permintaan itu. Mereka juga meminta kaisar untuk menolaknya. Dan itulah yang terjadi.

Serangan Umum.

Pada waktu fajar tanggal 28 Mei dan selepas shalat, sultan Muhammad menuju lokasi-lokasi serangan.

Meriam-meriam besar membidikkan peluru berupa bongkahan batu bulat menggempur benteng, dan gema suaranya terdengar dari kejauhan.

Instruksi sultan memerintahkan untuk mengeluarkan dan menyebarkan ilmu Utsmani dari tempat penyimpanan. Ini berarti awal serangan umum.

Tiga Strategi Inovatif.

Meriam-meriam kecil tidak mampu menembus benteng-benteng Konstantinopel karena terlalu besar.

Selanjutnya, panglima jenius ini berpikir untuk membuat menara-menara dari kayu setinggi benteng-benteng Konstantinopel. Menara-menara kayu tersebut ditutup kulit dan diisi pasukan, digerakkan dengan roda agar mendekati benteng-benteng Konstantinopel, sehingga dengan mudah memburu pasukan-pasukan musuh. Seluruh menara-menara kayu berhasil dibuat dalam satu malam. Pasukan Bizantium dikejutkan dengan adanya menara-menara yang terpampang di hadapan mata mereka dan hanya berjarak beberapa meter.

Mereka segera melempari menara-menara kayu tersebut dengan api menggunakan kayu-kayu yang dibasahi dengan minyak dan dibakar, hingga menara-menara kayu berjatuhan.

Setelah itu, panglima jenius menggali parit-parit di bawah tanah sepanjang tiga benteng Konstantinopel. Meski upaya ini tuntas dalam waktu singkat dan pasukan Utsmani bisa menyusup di sela-selanya, tapi mereka dibendung dan akhirnya mundur kembali.

Terakhir, akhirnya meriam kesultanan harus digunakan.

Meriam kesultanan ini memiliki berat berton-ton, ditarik 80 ekor lembu, dan menggunakan tenaga 400 prajurit; 200 di kanan dan 200 di kiri. Berat peluru meriam ini adalah 500 kg, dan jangkauannya mencapai sekitar 1,5 km (sekitar 1.650 m). Suara meraim ini terdengar hingga radius 60 km.

Meraim ini diletakkan di atas sebuah bukit tinggi yang saat ini dikenal sebagai wilayah Topkapi yang berarti bukit meriam. Tempat ini adalah salah satu perkampungan di Istanbul.

Peluru-peluru meriam kesultanan mulai mendobrak benteng-benteng Konstantinopel, membuat banyak lubang di dinding benteng, hingga para prajurit Utsmaniyah maju dengan keberanian tiada tara, mereka melemparkan tali-tali ke atas benteng, lalu mereka naik secara bergelombang.

Seorang prajurit Utsmaniyah membidikkan anak panah ke arah panglima pasukan Bizantium, Justinian, hingga tepat mengenai sasaran. Panglima Justinian mundur dari medan perang meski kaisar Konstantinopel mengharapkannya untuk tetap bertahan.

Syahid pertama pahlawan pasukan Utsmaniyah yang menyerang adalah amir Waliyuddin Sulaiman yang mengangkat bendera Utsmaniyah di atas tembok-tembok Konstantinopel. Sebelum bendera jatuh dari tangannya, sejumlah pasukan maju untuk meraihnya dan mengangkatnya kembali.

Pasukan Utsmaniyah terus bergerak masuk ke dalam kota dan sejumlah pintu gerbang kota berhasil dibuka, atau melalui celah-celah benteng yang tembus akibat serangan peluru-peluru meriam kesultanan.

Rantai besi yang menghalangi dan melindungi selat Golden Horn juga diputus, sehingga perahu-perahu armada laut Utsmaniyah melaju membelah lautan hingga mengepung perahu-perahu pasukan Bizantium, melenyapkannya beserta seluruh pasukan yang ada di atasnya.

Muhammad Al-Fatih.

Sultan Muhammad Al-Fatih memasuki kota Konstantinopel setelah gerakan perlawanan di sana lumpuh, dan bahkan lenyap. Ia masuk dengan mengendarai kuda putih miliknya sambil membaca ayat-ayat Al-Qur’an, menuju gereja Aya Sofia yang dipenuhi orang; kaum tua, muda, anak-anak, wanita, pendeta, dan rahib.

Saat melihatnya, mereka bersungkur sujud, menangis, sambil berteriak dan memohon.

Al-Fatih turun dari kuda, shalat dua rakaat untuk Allah demi mensyukuri kemenangan nyata yang Allah karuniakan padanya.

Seusai shalat, Al-Fatih melihat orang-orang, ternyata mereka masih saja sujud. Ia merasa terusik, lalu berkata kepada para rahib, “Hentikan…! Berdirilah kalian semua, aku ini sultan Muhammad. Aku katakan kepada kalian semua, untuk seluruh saudara-saudara kalian, dan siapa pun yang ada di sini, ‘Sesungguhnya, sejak hari ini, nyawa dan kebebasan kalian aman’.”

Jaminan keamanan yang diberikan sultan Al-Fatih ini memberikan kebebasan kepada para penduduk kota Konstantinopel yang melarikan diri agar kembali. Ia juga memberikan sejumlah perintah agar rakyat Bizantium tidak disakiti sedikit pun.

Masjid Aya Sofia.

Selanjutnya, sultan Muhammad Al-Fatih memerintahkan untuk merubah gereja Aya Sofia menjadi masjid, untuk digunakan shalat Jumat pertama di sana setelah penaklukan.

Aya Sofia termasuk gereja terbesar di dunia pada saat itu, juga merupakan bangunan keagamaan paling tua di seluruh Eropa.

Menara-menara dibangun di atas gereja Aya Sofia, azan dikumandangkan, dan kota tersebut diberi nama Islam Bul yang berarti kota Islam, menggantikan nama Konstantinopel. Setelah itu, Islam Bul diubah menjadi Istanbul, setelah namanya juga diubah menjadi Estonia.

Perilaku Al-Fatih,[1]

Saat memasuki kota Konstantinopel sebagai pemenang, perilaku Al-Fatih jauh berbeda dengan aturan perang pada abad-abad pertengahan yang mengusir penduduk kota yang ditaklukkan ke tempat lain, atau menjual mereka di pasar-pasar budak. Akan tetapi, Al-Fatih justru melakukan sesuatu yang tidak bisa dipahami pemikiran barat pada masa itu; toleran dan kasih sayang. Ia melakukan tindakan berikut:

  1. Pertama: Al-Fatih langsung membebaskan para tawanan dengan tebusan uang yang tidak seberapa, itu pun dibayar dengan cara diangsur dalam waktu yang lama.
  2. Kedua: Menempatkan para tawanan yang menjadi bagiannya dari rampasan perang di sejumlah rumah yang terletak di pesisir teluk.
  3. Ketiga: Ketika kota Konstantinopel diizinkan untuk para prajurit dan hanya selama tiga hari pasca penaklukan, izin yang diberikan terbatas untuk hal-hal yang tidak bersifat materi, sehingga wanita tidak diperkosa, orang tua tidak diusik, demikian halnya anak kecil ataupun pendeta. Gereja dan biara tidak diruntuhkan, meski kota ini direbut melalui peperangan dan menolak untuk menyerah.

Secara hukum, sultan Muhammad Al-Fatih yang menjadi penakluk berhak memiliki semua yang ada di kota, berhak mengubah separuh gereja-gereja dan biara-biara menjadi masjid, dan membiarkan separuh lainnya untuk penduduk kota, karena kota tersebut direbut secara paksa.

Putusan-putusan sultan Muhammad Al-Fatih mencantumkan banyak poin yang menetapkan sejumlah biara di tangan orang-orang Bizantium.

Kepemilikan Yahudi atas biara-biara mereka tetap diakui secara penuh, dan pendeta Yahudi, Musa K. Tasali, diberi banyak hadiah.

Pada tahun 1461 M (865 H), seorang santo bernama Youakim diangkat untuk kelompok-kelompok Armenia, untuk mengawasi seluruh kepentingan orang-orang Armenia.

Al-Fatih menaruh perhatian besar terhadap kota yang berhasil ditaklukkan itu. Ia mendatangkan sejumlah pekerja dan arsitek untuk merenovasi kota tersebut dan membuatnya lebih indah dari sebelumnya.

Urusan perdata rakyat non-muslim berkenaan dengan agama dan tradisi diserahkan kepada mereka. Ini merupakan fenomena beradab yang mendahului masanya.

[1] Dinukil dari Ad-Daulah Al-‘Utsmaniyyah, Majmu’at Safir (VII/25).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *